Minggu, 08 Juli 2012

Faktor Pendukung Pengembangan Pariwisata


Di Susun Untuk memenuhi Tugas :
Mata Kuliah : Geografi Sejarah

Di Susun Oleh :
Setya Agung Priyatmaja @Wahyu Nur Hidayah @Endah Setiyoningsih @Hilya Antami @Dwi Setyo Adi P. 
@Pretty Hapsari H.S. @Yuli Setyo N.                     

PENDAHULUAN
            Pembangunan berbasis kreatifitas dan kemandirian menjadi diskursus yang menarik ntuk dicermati sebagai upaya menumbuhkan upaya-upaya cerdas menuju tercapainya tujuan pembangunan bangsa. Pengalaman masa lalu dalam perencanaan pembangunan yang mengabaikan azaz partisipasi dan demokratisasi, telah membuka pandangan baru yang lebih berpihak pada kemandirian masyarakat. Menurut Colman Nikon (1978) pembangunan yang menyebabkan peningkatan dibidang ekonomi, bila tidak dibarengi dengan penyebaran yang merata antar masyarakat, maka pembangunan tersebut dikatakan gagal. Oleh karenanya, dibayak negara telah berhasil meningkatkan derajad kesejahteraan masyarakatnya.pembangunan ekonomi selalu di upayakan untuk menciptakan kemandirian dan pemerataan kesejahteraan.
            Pada tahun 1980-an pengembangan pariwisata di Indonesia sangat dipengaruhi oleh teori pertumbuhan. Konsep pembangunan yang mengagungkan paradigma pertumbuhan, yang percaya sepenuhnya dengan teori-teori tricle-town effect dimana konsep dasarnya adalah dengan mengembangkan perusahaan besar, secara otomatis akan memberikan pengaruh positif pada perusahaan kecil dibawahnya atau masyarakat kecil disekitarnya. Ternyata kajian empiris menunjukkan bahwa asumsi teori modernisasi ini tidak berjalan dengan baik. Seperti Contoh pengembangan pariwisata di Bali, pada tahun 1970-an dengan Nation Development Program (UNDP) dibangunlah hotel yang menganut teori modernisasai tersebut. Konsep ini mendapat kritikan yang sangat tajam, dimana pariwisata dituduh sebagai neo-kapitalisme, yang hanya mengeksploitasi masyarakat lokal, sementara keuntungan atau manfaat dari pembangunan sebagian besar tersedot keluar, dinikmati kaum kapitalis.      
          Pariwisata konglomerasi memberikan porsi yang sangat kecil kepada masyarakat lokal. Kesenjangan pendapatan dan kesejahteraan antar lapisan masyarakat makin besar. Pariwisata konglomerasi juga di sunyalemen meningkatkan import barang dan jasa, serta membutuhkan lahan yang sangat luas sehingga banyak lahan penduduk masyarakat lokal yang sudah berpindah tangan untuk memuaskan sektor pariwisata yang berskala besar tersebut. Demikian juga kesejahteraan pembangunan infrastruktur semakin tajam antara daerah tujuan wisata dan daerah non-tujuan wisata.
          Dalam pelaksanaan pembangunan kepariwisataan di Indonesia memiliki banyak tantangan dan peluang yang kalau dilihat sebagai suatu totalitas memiliki posisi yang semakin kuat karena adanya difrensi produk yang cukup banyak. Namun dari 25 daerah tujuan wisata di Indonesia, konsentrasi pembagunan kepariwisataan hanya terjadi dibeberapa daerah tujuan wisata saja seperti Bali, DIY, Sulawesi selatan, DKI Jakarta, Riau, dan Sumatera Utara. Pemerintah memberikan dukungan dalam pembinaan dan pengelolaan kepariwisataan daerah melalui PP No.24 Tahun 1979, yaitu mengenai pemberian otonomi daerah, walau pada kenyataan kinerja pembangunan dan pengelolaan belum terwujud secara optimal.

PEMBAHASAN
A. Wisata Batu Alam
1. Kota Batu Malang
·      Transportasi
a. Transportasi Udara
Bandara Kota Malang yang dikenal dengan Bandara Abdul Rachman Saleh mulai berkembang sejak Lumpur Lapindo menghambat perjalanan dari Malang ke Bandara Juanda Surabaya. Saat ini ada 5 Penerbangan Malang-Jakarta yang dilayani oleh Sriwijaya Air, Batavia Air, dan Garuda Indonesia tiap harinya.
b.  Transportasi Darat
Kota Malang dilalui oleh jalur kereta api Surabaya-Malang-Blitar-Kediri-Kertosono. Stasiun utama adalah Stasiun Malang(kota baru) (+444 M), 2 Stasiun lainnya adalah Malang kota lama dan Stasiun Blimbing. Untuk jalur bus, Terminal Arjosari melayani rute keseluruh jurusan kota-kota utama di pulau Jawa, Bali, NTB dan Sumatera baik kelas ekkonomi maupun eksekutif. Terminal Gadang melayani rute Malang-Lumajang, Malang-Blitar-Tulungagung-Trenggalek. Namun terminal ini telah digantikan oleh terminal Hamid Rusdi yang terletak kurang lebih 2 km disebelah timur terminal Gadang. Ada juga terminal Landungsari, Sub-terminal Madyopuro dan Sub-terminal Mulyorejo. Terminal-terminal ini terhubung dengan berbagai angkutan kota untuk menuju tempat wisata Batu Malang. 
·      Kebijakan Pemerintah
1. Peran Kebijakan Pengembangan Pariwisata
               Secara umum kebijakan pengembangan pariwisata Malang Raya  meliputi kebijakan pengembangan pariwisata  yang dilakukan masing-masing institusi pemerintah Kabupaten Malang, Kota Malang, maupun Kota Batu yang dituangkan dalam bentuk produk hukum daerah masing-masing. Namun berdasarkan data di lapangan berbagai kebijakan pengembangan pariwisata tersebut belum tertuang dalam bentuk dokumen bersama, maupun dalam bentuk Rencana Induk Pengembangan Pariwisata daerah ( RIPPDA ).
2. Implementasi Kerjasama Pengembangan Pariwisata Malang Raya  
 Kebijakan antar Pemerintah Daerah tidak konsisten dan bersifat parsial hal tersebut dibuktikan dari diskresi kebijakan yang dilkakukan antar ketiga Kepala Daerah, yaitu Bupati Malang, Walikota Malang,dan Walikota Batu tentang pengembangan dan komersialisasi lapangan udara Abdurrahman Salaeh, serta pengembangan lintas timur Malang Raya. Kesepakatan yang pernah dibuat telah berubah dikarenakan tendensi kepentingan yang tidak sama antar Pemerintah Daerah. Sedangkan kebijakan yang bersufat parsial dapat dilihat dari kerjasama pemanfaatan sumber air Wendit untuk kepentingan PD.Jaya Yasa Kabupaten Malang.
3. Dukungan Peran Masyarakat Dalam Pengembangan Pariwisata Antar Daerah
               Secara umum keterlibatan masyarakat dalam bentuk dukungan terhadap proses kerjasama antar daerah dalam pengembangan pariwisata belum pernah dilakukan. Selain kecilnya dukungan keterlibatan masyarakat lokal di lintas batas antar daerah masyarakat lokal di lokasi pengembangan ODTW, Pemerintah Daerah kurang melakukan upaya pengembangan pariwisata dengan melibatkan community base masyarakat sekitar lokasi ODTW, misalnya
·         Rencana Pengembangan kawasan Junrejo yang merupakan wilayah lintas batas antara Kabupaten Malang dan Kota Batu sebagai sentra industri kerajinan dan industri makanan kecil dan rencana pembangunan miniature objek wisata dunia hingga saat ini belum ada tindak pembicaraan maupun fasilitasi dari kedua Pemerintah Daerah tersebut.
 Model Kerjasama Pengembangan Kawasan Wisata Malang Raya
Untuk mewujudkan kerjasama pengembangan kawasan wisata Malang Raya secara nyata perlu diketahui peta kebutuhan kerjasama pengembangan pariwisata antar daerah yang meliputi:
1.      Komitmen bersama dari masing-masing daerah untuk membangun kerjasama yang sinergis dalam pengembangan ODTW agar lebih optimal dan saling menjaga konsistensi kerjasama, serta adanya pemahaman kerangka piker yang sama antar instansi, antar eksekutif dan legislative masing-masing daerah yang melakukan kerjasama, serta masyarakat daerah yang menjadi stakeholder dalam pengembangan kawasan wisata.
2.      Kesepakatan kerjasama hendaknya diikuti dengan kebijakan riil dari masing-masing daerah yang terdokumentasi secara resmi dalam RIPPDA masing-masing daerah dan RIPPDA bersama, serta tindakan konkret untuk mengimplementasikan kerjasama.
3.      Dalam segala tindakan dan kegiatan agar selalu mengikutsertakan peran serta masyarakan untuk mendapat dukungan luas dari masyarakat antar daerah dalam proses pengambilan kebijakan maupun dalam pelaksanaan kerjasama dalam pengembanngan kawasan pariwisata antar daerah.
4.      Adanya diskresi kebijakan yang tepat dari lembaga yang beerwenang melakukan koordinasi ditingkat provinsi.
5.      Untuk mengkomodasi akselerasi proses kerjasama pengembangan kawasan pariwisata antar daerah, perlu dibangun forum jaringan komunikasi daerah dan antar daerah hingga tingkat desa yang melibatkan masyarakat, LSM, pejabat pemerintah dan anggota DPRD dalam rangka membangun kesepahaman terhadap urgensitas pengembangan kawasan pariwisata melalui kerjasama antar daerah.
·      Peran Masyarakat
Peran masyarakat terhadap objek wisata Batu Malang adalah dengan cara ikut membantu dalam menjaga objek wisata Batu Malang dengan tidak membuang sampah sembangrangan karena dapat menghambat saluran air. Sarana dan prasarana disekitar wisata batu Malang dirawat. Masyarakat sekitar dengan tetap menjaga keaslian alam daerah tersebut karena memang aset utama daerah tersebut adalah pemanangan alamnya yang indah dan hawanya yang sejuk. 
·      Data-data kunjungan Wisata
No
Tahun
Jumlah pengunjung
Pendapatan jumlah pengunjung
1
2000
50.500
Rp. 16.455.000
2
2001
69.350
Rp. 23.250.000
3
2002
40.850
Rp. 12.155.000
4
2003
43.750
Rp. 13.950.000
5
2004
46.755
Rp. 15.150.000

2. Waduk Kedung ombo
·         Transportasi
Sarana transportasi meliputi kendaraan umum, taksi, angkutan desa/kota, bus, dari terminal Kabupaten antar kota atau antar provinsi. Jalur provinsi melalui kabupaten Boyolali adalah jalur utama pantura Surakarta-Jakarta. Transportasi udara juga tersedia dengan adanya bandara udara Adi Sumarmo yang berjarak sekitar 20 km dari Boyolali kota. Sedangkan untuk sarana Laut dapat menggunakan pelabuhan Tanjung Mas Semarang yang dapat ditempuh selama 1,5 jam perjalanan darat.
·         Kebijakan pemerintah
Kebijakan Pemerintah Dati II Grobogan, Boyolali, dan sragen
1.      Kebijakan Pemerintah Dati II Grobogan
Mengembangkan objek wisata dikawasan Waduk Kedung Ombo, yaitu disekitar dam site, dengan memanfaatkan potensi alam dan bendungan.
2.      Kebijakan Pemerintah Dati II Boyolali
Mengembangkan objek wisata di kawasan Waduk Kedunng Ombo yaitu disekitar Desa Wonoharjo, kecamatan Kemusung dengan memanfaatkan potensi alam yaitu hutan milik KPH Telawa Juwangi serta hamparan Waduk Kedung Ombo.
3.      Kebijakan Pemerintah Dati II Sragen
Mengembangkan objek wisata dikawasan Waduk Kedung Ombo yaitu disekitar Gunung Kemukus Desa Pendem, dengan memanfaatkan potensi air waduk kedung ombo serta potensi wisata budaya.
a. Potensi Alam
- Panorama yang berbukit indah dan sejuk
- Hamparan air waduk Kedung Ombo yang difungsikan sebagai obyek wisata air dengan perahu boat.
b. Potensi bangunan fisik
- Bendungan waduk Kedung Ombo dengan panjang 1,8 km dan lebar atas 18 m, sedangkan tingginya 96 m
- Tempat penjualan ikan bakar khas Kedung Ombo
- Gedung serbaguna
- Ruang pertunjukan terbuka
- Mushola
- Toilet
- Pintu gerbang masuk
- Arena bermain anak-anak
·         Peran masyarakat
Masyarakat ikut serta dalam melestarikan dan menjaga objek wisata waduk kedung ombo dengan baik, selain itu masyarakat setempat juga dapat bekerjasama dengan pengelola tempat wisata waduk kedung ombo menciptakan lapangan pekerjaan masyarakat bisa menjual souvenir yang khas dari waduk kedung ombo maupun yang khas lainnya.
·         Data-data kunjungan wisata
Anggaran pendapatan jumlah pengunjung
No
Tahun
Jumlah pengunjung
Pendapatan jumlah pengunjung
1
2000
57.252
Rp. 11.382.660
2
2001
67.229
Rp. 20.044.560
3
2002
41.986
Rp. 19.096.740
4
2003
43.903
Rp. 24.172.110
5
2004
48.762
Rp. 28.651.290

B. Wisata Sejarah
1.      Semarang
Faktor pendukung pengembangan wisata
a.       Transportasi
Sarana dan prasarana yang dibutuhkan oleh wisatan  adalah transportasi, penginapan, restoran yang ada di kota Semarang. Transpotasi di Semarang banyak didukung oleh keberadaan Bandara Ahmad Yani, Terminal Terboyo, Pelabuhan Tanjung Emas, Stasiun Tawang, dan Stasiun Poncol.
b.      Kebijakan pemerintah
Untuk mendukung keberhasilan program-program pemerintah terutama di bidang kepariwisataan dibutuhkan kerjasama semua pihak. Kesadaran dan peran semua pihak yang terkait baik itu wisata maupun pemerintah sangat dibutuhkan demi suksesnya pembangunan kepariwisataan. Kerjasama antara pemerintah dengan industri swasta dalam pengembangan obyek wisata tempat-tempat yang bernilai historikal di kota Semarang dapat diformulasikan dengan beberapa kebijakan antara lain:
·      Peningkatan kerjasama pemerintah dengan pihak swata
Dengan cara memantapkan koordinasi dan kerjasama dengan pelaku-pelaku pariwisata, misalnya kerjasama pemerintah dengan industri, restoran, biro perjalanan, dan toko souvenir. Kerjasama ini juga dilakukan dengan lembaga-lembaga pendidikan yang berupa pelatihan-pelatihan dan penelitian-penelitian yang mengenai beberapa cara memanfaatkan tempat-tempat bernilai historical yang kemudian digunakan untuk menunjang dunia pariwisata.
·      Penambahan dan pengadaan sarana dan prasarana obyek wisata
Dengan menambah dan pengadaan terhadap sarana dan prasarana yang dapat menunjang kepuasan pelayanan untuk wisatawan, misalnya tersedianya sarana transportasi yang baik, tempat ibadah, tempat penginapan, restoran, dan kamar kecil yang bersih di kawasan wisata.
·      Peningkatan kualitas sumber daya manusia
Dengan cara meningkatkan kualitas keterampilan pfofesi bagi insan pariwisata, misalnya pemberian diklat tentang pemanfaatan obyek wisata sejarah, penentuan tentang kawasan yang dapat dikembangkan sebagai obyek wisata sejarah yang masih ada hingga kini, dan juga diklat yang menghubungkan dengan pelestarian tempat-tempat bersejarah yang sesuai dengan UU Cagar Budaya.
·      Distination information sistem dikembangkan
Dengan cara mengaktifkan kegiatan-kegiatan pemasaran obyek wisata baru yang berupa tempat-tempat bersejarah, sekaligus memberikan informasi yang jelas dan mudah terhadap obyek tersebut. Misalnya, pembuatan prosedur-prosedur obyek wisata sejarah yang ditempatkan di tempat-tempat yang strategis seperti, bandara, terminal, stasiun kereta api, dan tempat-tempat keramaian seperti, pasar. Dalam brosur ini harus menjelaskan dan dapat memberikan inormasi-informasi mengenai lokasi dari tempat-tempat yang bersejarah tersebut, keunikannya, dan transportasi menuju ke kawasan tersebut.
·      Peningkatan penyuluhan sadar wisata berdasarkan Sapta Pesona
Dengan cara meningkatkan terhadap pemberian penyuluhan sadar wisata kepada masyarakat luas, khususnya masyarakat yang berada di daerah atau kawasan obyek wisata, dengan materi penyuluhan berwawasan Sapta Pesona (Aman, Tertib, Bersih, Sejuk, Indah, Ramah, dan Kenangan).
c.       Peran masyarakat
Dalam mewujudkan peran serta masyarakat dalam melestarikan dan menjaga wisata yang ada dilakukan dengan segala usaha dan upaya untuk tetap mempertahankan kelestarian wisata tanpa menganggu kerusakan lingkungan tanpa adanya suatu hal yang bisa mengganggu suatu proses pelestarian wisata dengan tetap berpegang pada ketentuan dan kaidah yang ada di masyarakat.
d.      Data-data kunjungan wisata
No
Tahun
Jumlah pengunjung
Pendapatan dari jumlah pengunjung
1
2004
49.450
Rp. 18.755.000
2
2005
51.250
Rp.16.555.000
3
2006
50.755
Rp. 19.755.000
4
2007
48.635
Rp. 15.350.000
5
2008
53.455
Rp. 21.550.000

C. Wisata Bahari
1.      PRPP / Marina Semarang
Faktor pendukung pengembangan wisata
a.       Transportasi
Perkembangan infrastruktur kota dalam menyediakan sarana transportasi yang memadai seperti perkembangan bandara A.Yani sebagai bandara Internasional,pengembangan terminal terpadu Mangkang dan rencana pengembangan terminal penupang laut Tanjung Mas diharapkan dapat semakin mengeliatkan roda perekonomian kota.
Sarana Pendukung Lain
1.      Musholla tempat ibadah bagi umat muslim ini mutlak harus ada pada setiap tempat wisata dan sarana wisata (terminal,pelabuhan,bandara,dsb) selain harus bersih musholla juga harus memiliki sistem air yang bagus karena tanpa ada air musholla juga tidak akan beerfungsi dengan baik.
2.      Toilet,Keutamaan dari tempat ini adalah masalah kebersihan maka harus ditempatkan petugas kebersihan yang bertugas membersihan setiap hari,toilet yang bersih dan nyaman akan menbuat pengunjung akan semakin betah dan semakin memberikan kesan bahwa tempat wisata tersebut layak untuk dikunjungi.selain  kebersihan fasilitas air harus ada karena memang air adalah faktor pendukung utama dari layak dan tidaknya toilet digunakan.
3.      Area Bermain Anak, selain orang tua yang mengujungi tempat wisata adalah anak-anak kita tahu bahwa anak selalu mengisi aktifitasnya dengan bermain maka disetiap tempat wisata hendaknya diberi fasilitas ini seperti ayunan, prosotan, tempat petak umpet mini, dan sebagainya. Tentunya fasilitas ini harus aman jangan sampai justru menimbulkan bahaya bagi anak maka pengawasan dari orang tua harus tetap ada.
4.      Area Out Bond, selain untuk refresing out bond juga akan memberikan kesan kepada pengunjung bahwa tempat wisata ini akan memberikan pelajaran kepada pengunjung  akan arti bekerja sama, berani menghadapi tantangan, dan menghargai alam.
b.      Kebijakan pemerintah
Kebijakan pemerintah kota Semarang yang berkaitan dengan penanganan pantai, garis pantai kota Semarang sepanjang 18 km yang terbagi dalam tiga karakteristik kawasan. Kawasan bagian barat dari Kendal hingga kawasan PRPP/Marina merupakan kawasan alamiah yang bisa dikembangkan sebagai kawasan konservasi, pertanian pantai, dan perkembangan pariwisata. Sedangkan kawasan pantai bagian tengah antara lain pantai di PRPP/Marina hingga Pelabuhan merupakan areal pengembangan fungsional perkotaan. Sedangkan kawasan timur, yaitu dari Pelabuhan Tanjung Mas hingga kabupaten Demak berkembang kegiatan pertanian yang berupa tambak.
Visi dan Misi Kota Semarang Tahun 2001-2005 yang ditetapkan dalam rencana strategi kota Semarang yaitu terwujudnya masyarakat kota pantai metropolitan yang mumpuni. Terkait dengan Visi kota Semarang kebijakan pembangunan pariwisata diarahkan pada pengembangan dan pemanfaatan potensi-potensi pariwisata secara maksimal terutama wisata bahari, potensi alam yang berupa pantai di pesisir utara kota Semarang.
c.       Peran masyarakat
Masyarakat berusaha untuk membantu dalam usaha menjaga ketertipan serta keamanan di dalam lingkungan obiyek wisata tersebut maupun di luar obyek wisata tersebut. Masarakat juga ikut barpartisipasi dalam berjualan sofenir, menjaga keamanan lingkungan obiyek wisata dengan cara menjadi petugas parkir kendaraan supaya kendaran-kendaran pengujung yang datang bisa terkendali dengan  baik dan rapi, Masyarakat ikut andil bekerja di Loket penjualan karcis masuk obiyek wisata, adanya peran serta masyarakat dalam kebersihan di lingkugan wisata, masarakat ikut menjaga keamanan lingkungan wisata baik di malam hari maupun di siang hari dengan cara menjadi penjaga malam maupun menjadi satpam di obyek wisata tersebut.
d.      Data-data kunjungan wisata dan pendapatan
No
Tahun
Jumlah pengunjung
Pendapatan dari jumlah pengunjung
1
2000
53.455
Rp 9.650.000
2
2001
68.355
Rp 22.350.000
3
2002
45.659
Rp 23.850.000
4
2003
43.750
Rp 20.450.000
5
2004
40.789
Rp 17.950.000

PENUTUP
KESIMPULAN
Negara  Indonesia merupakan negara yang mempunyai banyak tempat wisata yang menarik buat dikunjungi baik dari wisatawan domestik maupun wisatawan manca negara. Tempat wisata ini tersdapat hamper diseluruh pelosok penjuru Indonesia, misalnya Waduk Kedung Ombo yang  terletak di antara tiga kabupaten yaitu Kabupaten Grobogan, Kabupaten Sragen, dan Kabupaten Boyolali objek wisata ini memperlihatkan bengungan airnya serta panorama yang berbukit indah dan sejuk. Kota Batu Malang ini merupakan tempat yang menarik juga buat dikunjungi yang  berada di kota Malang Jawa Timur memperlihatkan suasana objek wisata yang sejuk dan indah yang menjadi daya tariknya yaitu wisata budaya dan alam. Di Semarang Jawa Tengah terdapat tempat wisata yang menarik yaitu PRPP(Pantai Marina) dan wisata sejarah seperti Kota Lama, Sam Poo Kong dll. Dan masih banyak tempat wisata yang menarik di Indonesia. Perkembangan suatu tempat wisata itu sendiri tidak lepas dari peran pemerintahan dalam kebijakan pemerintah untuk meningkatkan pariwisata, peran masyarakat, jumlah pengunjung serta transportasi atau sarana dan prasarana yang mendukung.  Di berbagai tempat atau daerah mempunyai cara atau kebijakan yang dikeluarkan oleh pemerintah dalam mengembangkan objek wisata agar objek wisata itu lebih menarik perhatian para wisatawan bahkan dilakukan kerjasama dengan pihak swasta.

 DAFTAR PUSTAKA

Karyono, A. Hari. (1997). Kepriwisataan. Gramedia. Jakarta.
Suwantoro, Gamal. (1997). Dasar-dasar pariwisata. Andi Yogyakarta. Yogyakarta.
http:// www.ragam budaya nusantara.com
http:// www. jayinsanpariwisata.blogspot.com
http:// www.wikipedia.com/transportasi di malang dan boyolali

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar